sponsor blogku

Jumat, 21 Mei 2010

Abu Nawas..Membalas Perbuatan Raja

pagi-pagi sambil minum kopi susu yang sedikit agak panas, iseng aja baca Abunawas - Sang Penggeli Hati MB. Rahimsyah lagi, ,
Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titan langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas. Apabila mengganti kerugian. inilah yang membuat Abu  Nawas memendam dendam.
Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda. akanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak  dimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu  nawas tetap tidak beranjak. Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. la tiba-tiba tertawa riang.
"Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu Nawas berkata kepada istrinya.
"Untuk apa?" tanya istrinya heran.
"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat. Dengan muka berseri-seri. 
Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkuk  hormat dan berkata,
"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan  perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba."
"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar.
"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.
"Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini."
"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?"
"Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu." Baginda Raja tidak bisa  mengelakkan diri menotak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para  menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat  surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di  manapun mereka hinggap. 
Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang  sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan  memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.
Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawastidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
Baginda Raja tidak bisa berbuat  apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang  telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasa  puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang  hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia  sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas. Abu Nawas  yang nampak lucu dan sering  menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah  menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.
Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.

2 komentar:

  1. hehe.. mantap juga euy... trik abu nawas sepertinya perlu dicontoh tuh.. sangat jenius..

    BalasHapus
  2. bener eta teh kang buat NGawarah penguasa yang kebablasan

    BalasHapus

click here