sponsor blogku

Selasa, 29 Juni 2010

Taruhan Yang Berbahaya

cerita-cerita di balik piala dunia 2010 seperti tak kan pernah ada habisnya, tangis, tawa, marah dan berbagai luapan emosi lainya mengiringi perjalanan piala dunia, seperti itu pula cerita tentang Abu Nawas tak pernah bosan untuk selalu membacanya. seperti kisah yang satu ini.
Pada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh kawan-kawannya sudah berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.
"Nah ini Abu Nawas datang." kata salah seorang dari mereka. "Ada apa?" kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.
"Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya." kawan-kawan Abu Nawas membuka percakapan.
"Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali kepada Allah Swt." kata Abu Nawas menentang.
Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas?" tanya kawan Abu Nawas.
"Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung." kata Abu Nawas memberitahu.
"Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?"
"Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah Swt. saja. Sekarang apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya?" Abu Nawas ganti bertanya.
"Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau pantati." kata mereka. Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu.
Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda Raja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harus berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.
Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda diundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawas hari-hari terasa amat panjang. Karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan yang amat mendebarkan itu.
Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang raja-raja dari negeri sahabat.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas. Kawan-kawan Abu Nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena Abu Nawas tidak hadir. Namun temyata mereka keliru. Abu Nawas bukannya tidak datang tetapi terlambat sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang paling
belakang.
Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya. Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian di tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya,
"Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?"
Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kaslh atas perhatian Baginda. Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini." kata Abu Nawas.
"Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk di atas tanah." Baginda Raja menyarankan. "Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet."
Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena Baginda melihat sendiri Abu Nawas duduk di atas lantai. "Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas?" tanya Baginda masih bingung.
"Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa karpet ke manapun hamba pergi." Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpan misteri.
"Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa." kata Baginda Raja bertambah bingung.
"Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia." kata Abu Nawas sambil beringsut-ringsut ke depan. Setelah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya. Abu Nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat Abu Nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau
terpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.
Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu kawan-kawan Abu Nawas merasa kagum.
Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas.
dari:kisah 1001 malam, Abu Nawas, Sang Penggeli hati, MB Rahimsyah

Rabu, 23 Juni 2010

Kode Warna Dan Huruf Pada Resistor

Bagi orang yang hobi elektronika dan yang pernah belajar elektronika mungkin untuk mengetahui sebuah nilai resistor sangatlah gampang, tapi bagi yang belum pernah ataupun sudah lupa (seprti saya) untuk menetukan nilai tahanan sebuah resistor kadang sangat memerlukan tabel kode warna pada resisitor.
Sebenarnya untuk mengetahui nilai tahanan sebuah resisitor bisa di ketahui dengan dua cara yaitu melakukan pengukuran dengan multimeter dengan satuan ohm dan dengan cara membaca dari warna pita atau huruf yang tertera pada fisik sebuah resistor.

                                      Kode warna pada resistor
                           
Kode huruf

1.Huruf I pada resistor menyatakan nilai resistor dan tanda koma desimal.
   Jika huruf I adalah :  R artinya x 1(kali satu) ohm
                                   K artinya x 103(kali 1000) ohm
                                   M artinya x 106(kali 1000000) ohm
2.Huruf II menyatakan toleransi
   Jika huruf II adalah : J artinya toleransi ± 5 %
                                   K artinya toleransi ± 10 %
                                   M artinya toleransi ± 20 %

Jumat, 18 Juni 2010

Abu Nawas Mati

Setelah beberapa hari ini terlena dengan FIFA World Cup 2010 yang penuh dengan kejutan dan sibuk dengan kegiatan silaturahmi di dunia maya dengan mengunjungi bloggnya temen-temen bloger skalian pengen tambah-tambah ilmu pengetahuan, rasanya ane pengen lanjutin baca kisah sang penggeli hati, Abu Nawas yang belum tamat ane baca, siapa tau aja ane bisa mengambil hikmah dari ceritanya Abu Nawas.
Ini Kisah Lanjutan dari cerita  raja dijadikan budak
Wah..mukadimahnya  kelamaan ya..langsung ke TKP aja dech..
Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia tahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajurit kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke rumah.
"Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu."
"Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak."
"Apa?"
"Raja kujadikan budak!"
"Kenapa kau lakukan itu suamiku."
"Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara."
"Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan untuk menangkapmu."
"Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku."
"Pasti kau akan dihukum berat."
"Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,"
Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang.
Tidak berapa lama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit.
"Ada apa?" tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.
"Huuuuuu .... suamiku mati....!"
"Hah! Abu Nawas mati?"
"Iyaaaa....!"
Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.
Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu.
Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja merasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas.
"Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?"
"Ada Paduka yang mulia." kata istri Abu Nawas sambil menangis.
"Katakanlah." kata Baginda Raja.
"Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat." kata istri Abu Nawas terbata-bata.
"Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas." kata Baginda Raja menyanggupi.
Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang.
Beliau berkata, "Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya."
Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras, "Syukuuuuuuuur ...... !"
Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tunggang langgang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder juga.
"Kau... kau.... sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?" tanya Baginda dengan gemetar.
"Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga atas pengampunan Tuanku."
"Jadi kau masih hidup?"
"Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang."
"Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas?
"Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia..."
"Ajarkan ilmu itu kepadaku..."
"Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya. Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri."
"Dasar pelit !" Baginda menggerutu kecewa
dari:kisah 1001 malam, Abu Nawas, Sang Penggeli hati, MB Rahimsyah

Rabu, 16 Juni 2010

Akhirnya listrik gratis pun hanya mimpi

Wacana yang sempat di lontarkan oleh Dirut PLN Dahlan Iskan tentang listrik gratis yang sedikit memberikan harapan untuk rakyat miskin akhirnya tidak menjadi realita karena Anggota DPR dan Mentri ESDM tidak menyetujui rencana tersebut ketika di adakan pertemuan antara DPR,Mentri ESDM dan Dirut PLN dalam acara pembahasan kenaikan TDL di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (15/6).
Memang pada awalnya juga wacana yang di lontarkan oleh Dirut PLN itu banyak yang pro dan kontra. yang pro dan yang mendukung atau mungkin sangat mengharapkan itu terjadi tentunya seluruh rakyat indonesia yang taraf hidupnya di bawah garis kemiskinan. karena mungkin dengan adanya listrik gratis bisa menurunkan beban hidup mereka. yang kontra pun banyak sekali mereka mengkritik bahwa itu merupakan suatu pemborosan, tidak mendidik dan lain sebagainya.
Tapi sebenarnya mungkin saja rakyat Indonesia bisa menikmati listrik gratis seperti yang telah dilakukan pemerintah Afrika Selatan (kompas.com) kalau korupsi di negri kita ini sudah tidak ada.tapi itulah nasib rakyat Indonesia jangankan listrik gratis, katanya masih banyak penduduk negeri ini yang masih belum menikmati listrik.
Ahkirnya harapan untuk bisa menikmati listrik gratispun kini hanya tinggal mimpi yang entah kapan bisa menjadi nyata.

Senin, 14 Juni 2010

kapan indonesia berlaga di piala dunia.

Ada rasa bangga ketika menonton pertandingan penyisihan piala dunia tahun ini, ketika melihat tim-tim dari asia seperti jepang dan korea selatan mampu mengalahkan tim kuat dari eropa dan afrika, korsel mengalahkan tim yang pernah menjuarai piala eropa yaitu yunani dan jepang mengalahkan timnas kamerun yang diperkuat striker kelas dunia yaitu samuel etoo.
Tapi dibalik rasa bangga itu terselip rasa sedih tentunya di dalam hati orang-orang indonesia, kenapa bukan indonesia yang menjadi wakil asia, bahkan mungkin banyak yang bertanya kapan tim sepak bola negeri kita bisa lolos ke pentas piala dunia, kenapa dengan jumlah penduduk ke 4 terbanyak di dunia negeri kita tak pernah menemukan tim sepak bola yang bisa menembus level dunia.
Bahkan yang lebih miris lagi indonesia tidak lolos ke putaran final piala asia tahun 2011 di qatar. dan betapa malunya negeri ini ketika melihat sebuah negara yang selalu di embargo dunia dan dengan penduduknya yang kesejahtraan hidupnya tak menentu bisa lolos ke putaran final piala dunia di afrika selatan yaitu korea utara, ya..korea utara sebuah negara yang terisolasi dari pergaulan dunia mampu lolos ke turnament  sepak bola terbesar sejagat.
Mungkin sudah semestinya negeri kita belajar dan berkaca dari korea utara yang dengan ekonomi yang serba terbatas mampu menunjukan jatidiri mereka dengan membawa rasa bangga karena mampu untuk berlaga di pentas sepak bola terbesar.
klo mau berpikir ulang sebenarnya apa sih yang kurang dari Indonesia, penduduk yang banyak, masa dari sekian banyak dari penduduk negeri ini tak ada pesepakbola hebat,. suporter yang fanatik, kita bisa melihat di setiap pertandingan timnas tak pernah gelora bung karno kosong tapi selalu penuh sesak. uang untuk pembinaan yang berlimpah.
Ayo bangkitlah sepakbola negeriku, berikan kebanggan kepada kami rakyat indonesia, kami pun ingin indonesia bisa tampil di piala dunia, kami ingin lagu indonesia raya berkumandang dan di dengar oleh seluruh penduduk bumi ini..

Jumat, 11 Juni 2010

Abu Nawas..Raja Dijadikan Budak

Melihat acara televisi  akhir-akhir ini sangat membosankan, dengan pemberitaan video mesum para artis. mendingan ane baca cerita Abu Nawas aja, ceritanya menghibur tapi juga penuh hikmah, seperti cerita yang berjudul "Raja Dijadikan Budak".
Kadangkala untuk menunjukkan sesuatu kepada sang Raja, Abu Nawas tidak bisa hanya sekedar melaporkannya secara lisan. Raja harus mengetahuinya dengan mata kepala sendiri, bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang hidup sengsara. Ada saja praktek jual beli budak.
Dengan tekad yang amat bulat Abu Nawas merencanakan menjuai Baginda Raja. Karena menurut Abu Nawas hanya Baginda Raja yang paling patut untuk dijual. Bukankah selama ini  Baginda Raja selalu miempermainkan dirinya dan menyengsarakan pikirannya? Maka sudah sepantasnyalah  kalau sekarang giliran Abu Nawas  mengerjai Baginda Raja.
Abu Nawas menghadap dan berkata kepada Baginda Raja Harun Al Rasyid.
"Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada Paduka yang mulia."
"Apa itu wahai Abu Nawas?" tanya Baginda langsung tertarik.
"Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya." kata Baginda Raja tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Tetapi Baginda ... " kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tetapi apa?" tanya Baginda tidak sabar.
"Bila Baginda tidak menyamarsebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu." kata Abu Nawas.
Karena begitu besar keingintahuan Baginda Raja, maka beliau bersedia menyamar sebagai rakyat biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas.
Kemudian Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al Rasyid berangkat menuju ke sebuah hutan.
Setibanya di hutan Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohon yang rindang dan memohon Baginda Raja menunggu di situ. Sementara itu Abu Nawas menemui seorang badui yang pekerjaannya menjuai budak. Abu Nawas mengajak pedagang budak itu untuk melihat calon budak yang akan dijual kepadanya dari jarak yang agak jauh. Abu Nawas beralasan bahwa sebenarnya calon budak itu adalah teman dekatnya. Dari itu Abu Nawas tidak tega menjualnya di depan mata. Setelah pedagang budak itu  memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan surat kuasa yang menyatakan bahwa pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu. Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang budak itu.
Baginda Raja masih menunggu Abu Nawas di situ ketika pedagang budak menghampirinya. la belum tahu mengapa Abu Nawas belum juga menampakkan batang hidungnya. Baginda juga merasa heran mengapa ada orang lain di situ.
"Siapa engkau?" tanya Baginda Raja kepada pedagang budak.
"Aku adalah tuanmu sekarang." kata pedagang budak itu agak kasar.
Tentu saja pedagang budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun Al Rasyid dalam pakaian yang amat sederhana.
"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Baginda Raja dengan wajah merah padam.
"Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya." kata pedagang budak dengan kasar.
"Abu Nawas menjual diriku kepadamu?" kata Baginda makin murka.
"Ya!" bentak pedagang budak.
"Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?" tanya Baginda geram.
"Tidak dan itu tidak perlu." kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang dan diperintahkan untuk membelah kayu.
Begitu banyak tumpukan kayu di belakang rumah badui itu sehingga memandangnya saja Sultan Harun Al Rasyid sudah merasa ngeri, apalagi harus mengerjakannya.
"Ayo kerjakan!"
Sultan Harun Al Rasyid mencoba memegang kayu dan mencoba membelahnya, namun si badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid memegang parang merasa aneh.
"Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh sekali !"
Sultan Harun Al Rasyid mencoba membalik parang hingga bagian yang tajam terarah ke kayu. la mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi si badui.
"Oh, beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja keras lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga." gumam Sultan Harun Al Rasyid.
Si badui menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan pandangan heran dan lama-lama menjadi marah. la merasa rugi barusan membeli budak yang bodoh.
"Hai badui! Cukup semua ini aku tak tahan."
"Kurang ajar kau budakku harus patuh kepadaku!" kata badui itu sembari memukul baginda. Tentu saja raja yang tak pernah disentuh orang ini menjerit keras saat dipukul kayu.
"Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al Rasyid." kata Baginda sambil menunjukkan tanda kerajaannya.
Pedagang budak itu kaget dan mulai mengenal Baginda Raja.
la pun langsung menjatuhkan diri sembari menyembah Baginda Raja. Baginda Raja mengampuni pedagang budak itu karena ia memang tidak tahu. Tetapi kepada Abu Nawas Baginda Raja amat murka dan gemas. Ingin rasanya beliau meremas-remas tubuh Abu Nawas seperti telur.
dari:kisah 1001 malam, Abu Nawas, Sang Penggeli hati, MB Rahimsyah

Rabu, 09 Juni 2010

Ada apa dengan berita video mesum mirip Ariel peterpan

Akhir-akhir ini indonesia di gemparkan dengan berita tentang video adegan mesum seseorang yang mirip sang bintang, vokalis band peterpan, Ariel dengan artis papan atas katanya mirip luna maya. setiap menit televisi memberitakan video tersebut lengkap dengan pembahasanya oleh para ahli di bidang ini.
Belum juga reda atau tertangkap pengedar pertama video tersebut, muncul lagi video mesum yang melibatkan orang yang katanya mirip Ariel peterpan lagi dengan presenter gosip kondang Cut tari. karena keduanya begitu terkenal maka media televisi pun memberitakan tanpa bosan mulai dari pagi sampai tengah malam.
Semua orang berbondong-bondong mencari-cari video tersebut, tapi dari manakah mereka tau kalau ada video tersebut. saya juga tak tau kalau ada video tersebut tapi begitu saya melihat berita di televisi, saya pun jadi tau kalau ada video itu. jadi sepertinya orang-orang yang memburu video tersebut awalnya mungkin banyak yang tidak tahu seperti saya, tapi ketika berita tersebut muncul di tv yang di tonton diseluruh lapisan masyarakat dari kota sampai pelosok desa yang tak pernah berhenti menghiasi layar tv.
Tapi yang jadi miris buat saya adalah bukan hanya tentang moral pemeran video tersebut. tapi bagaimanakah dampak dari pemberitaan tentang video tersebut untuk anak-anak kecil indonesia, karena mayoritas anak indonesia adalah penonton setia tv, bukan hanya menonton acara anak-anak yang porsinya sangat kecil, bahkan anak-anak di indonesia selalu diarahkan untuk selalu ikut menonton acara orang dewasa, seperti sinetron, gosip dan lain-lain. karena orang tua mereka suka nonton gosip maka dengan kedekatannya otomatis sang anakpun ikut menikmati gosip dan sinetron.
Lalu dengan berita yang begitu gencar tentang video yang tidak seharusnya mereka tonton yang beredar di televisi yang selalu menjadi teman setia mereka disaat ada orang tua ataupun tidak. dan dengan rasa selalu ingin tahu nya mereka tentunya akan memberikan dampak negatif bagi anak-anak.
Semoga televisi indonesia bukan saja menjadi penghibur dan media Informasi bagi orang dewasa tapi juga menjadi pengayom dan pembimbing anak-anak Indonesia, serta lebih arif dalam menetukan jadwal acara siaranya.

Minggu, 06 Juni 2010

silaturahmi

salam silaturahmi...
hari jum'at kemarin, waktu mendengarkan ceramah khotib jum'at, terasa ada yang begitu istimewa dalam khutbah nya. SILATURAHMI..ya begitulah topik bahasan khotib jum'at saat itu. ternyata banyak banget manfaat yang di dapat dari silaturahmi, bukan hanya keridhoan Allah dan Rosulnya tapi juga dapat dirasakan begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ada banyak manfaat yang didapat dari silaturahmi.untuk jangka pendeknya misalnya ketika kita berkunjung kerumah saudara,keluarga ataupun tetangga tentunya kita pasti bakal diberi minum atau bahkan makan,( tapi jangan disengaja untuk cari makan).itu contoh simpelnya saja.
untuk jangka panjangnya yaitu bisa mempererat tali kekeluargaan, persahabatan bahkan bisa memperlancar bisnis ataupun usaha kita, karena dengan banyak bersilaturahmi tentunya terjadi banyak komunikasi yang bermanfaat untuk kemajuan dan kebaikan kita.dan juga dengan bersilaturahmi tentunya kita bisa mengenal saudara ataupun kerabat kita yang tidak pernah kita kenal sebelumnya.
Ada satu kisah yang tidak baik karena jarang bersilaturahmi nih, ada dua orang anak laki-laki yang berkelahi karena memperebutkan seorang gadis, ketika keduanya dilerai dan orang tua mereka dipanggil ke kampus mereka ternyata kedua orang tua mereka itu masih satu keluarga besar. itulah satu contoh buruk karena jarang bersilaturahmi.
untuk di dunia maya sendiri ternyata silaturahmi itu sangat penting banget, contohnya untuk menaikan posisi suatu blog atau web dari search engine salah satunya dengan tingginya jumlah  trafick blog atau web tersebut. diantara salah satu cara untuk mendapatkan jumlah trafick yang banyak yaitu dengan silaturahmi juga yaitu blog walking atau mengunjungi situs web atau blog orang lain, dan meninggalkan komentar yang baik. dengan begitu mereka pun tentunya akan mengunjungi web kita .
Mari kita perbanyak silaturahmi untuk mempererat tali persaudaraan dan tentunya untuk mengharap keridhoan Allah s.w.t.
salam silaturahmi.

Jumat, 04 Juni 2010

Abu Nawas..Tetap bisa cari solusi

Masalah, ujian atau pun cobaan yang datang silih berganti kadang membuat kita mengalami stres, tapi semua itu pasti ada jalan keluarnya jika kita mau untuk berusaha dan berpikir mencari solusi dari masalah kita. tapi saya bukan mau membahas stres, tapi biar kita tidak stress mari kita baca kisah Abu Nawas yang satu ini, yang tak pernah kehabisan solusi. 
Mimpi buruk yang dialami Baginda Raja Harun Al Rasyid tadi malam menyebabkan Abu Nawas diusir dari negeri Baghdad. Abu Nawas tidak berdaya. Bagaimana pun ia harus segera menyingkir meninggalkan negeri Baghdad hanya karena mimpi. Masih jelas terngiang-ngiang kata-kata Baginda Raja di telinga Abu Nawas.
"Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. la mengenakan jubah putih. la berkata bahwa negerinya akan ditimpa bencana bila orang yang bernama Abu Nawas masih tetap tinggal di negeri ini. la harus
diusir dari negeri ini sebab orang itu membawa kesialan. ia boleh kembali ke negerinya dengan sarat tidak boleh dengan berjalan kaki, berlari, merangkak, melompat-lompat dan menunggang keledai atau binatang tunggangan yang lain."
Dengan bekal yang diperkirakan cukup Abu Nawas mulai meninggalkan rumah dan istrinya. Istri Abu Nawas hanya bisa mengiringi kepergian suaminya dengan deraian air mata.
Sudah dua hari penuh Abu Nawas mengendarai keledainya. Bekal yang dibawanya mulai menipis. Abu Nawas tidak terlalu meresapi pengusiran dirinya dengan kesedihan yang terlalu mendalam. Sebaliknya Abu Nawas merasa bertambah yakin bahwa Tuhan Yang Maha Perkasa akan segera menolong keluar dari kesulitan yang sedang melilit pikirannya. Bukankah tiada seorang teman pun yang lebih baik daripada Allah SWT dalam saat-saat seperti itu?
Setelah beberapa hari Abu Nawas berada di negeri orang, ia mulai diserang rasa rindu yang menyayat-nyayat hatinya yang paling dalam. Rasa rindu itu makin lama makin menderu-deru seperti dinginnya jamharir. Sulit untuk dibendung. Memang, tak ada jalan keluar yang lebih baik daripada berpikir. Tetapi dengan akal apakah ia harus melepaskan diri? Begitu tanya Abu Nawas dalam hati. Apakah aku akan meminta bantuan orang lain dengan cara menggendongku dari negeri ini sampai ke istana Baginda? Tidak! Tidak akan ada seorang pun yang sanggup melakukannya. Aku harus bisa menolong diriku sendiri tanpa melibatkan orang lain.
Pada hari kesembilanbelas Abu Nawas menemukan cara lain yang tidak termasuk larangan Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, Abu Nawas berangkat menuju ke negerinya sendiri. Perasaan rindu dan senang menggumpal menjadi satu. Kerinduan yang selama ini melecut-lecut semakin menggila karena Abu Nawas tahu sudah semakin dekat dengan kampung halaman.
Mengetahui Abu Nawas bisa pulang kembali, penduduk negeri gembira. Desas desus tentang kembalinya Abu Nawas segara menyebar secepat bau semerbak bunga yang menyerbu hidung.
Kabar kepulangan Abu Nawas juga sampai ke telinga Baginda Harun Al Rasyid. Baginda juga merasa gembira mendengar berita itu tetapi dengan alasan yang sama sekali berbeda. Rakyat gembira melihat Abu Nawas pulang kembali, karena mereka mencintainya. Sedangkan Baginda Raja gembira mendengar Abu Nawas pulang kembali karena beliau merasa yakin kali ini pasti Abu Nawas tidak akan bisa mengelak dari hukuman.
Namun Baginda amat kecewa dan merasa terpukul melihat cara Abu Nawas pulang ke negerinya. Baginda sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Abu Nawas ternyata bergelayut di bawah perut keledai. Sehingga Abu Nawas terlepas dari sangsi hukuman yang akan dijatuhkan karena memang tidak bisa dikatakan telah melanggar larangan Baginda Raja. Karena Abu Nawas tidak mengendarai keledai.
dari:kisah 1001 malam, Abu Nawas, Sang Penggeli hati, MB Rahimsyah
Dari cerita Abu Nawas diatas kita juga bisa mengambil hikmah, dengan berpikir yang sungguh-sungguh dan berserah diri kepada yang maha kuasa semua masalah yang kita hadapi pasti kita bisa menemukan jalan keluarnya.

Rabu, 02 Juni 2010

PANCASILA ...yang terlupakan

Dengan baju putih yang sudah tak putih lagi dan celana merah yang sudah tak merah terang, juga sepatu yang sudah sobek di samping nya, dia berjalan tegap melangkah pasti penuh semangat menuju ketengah lapangan tempat diadakanya upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari senin itu,setelah  terdengar teriakan seorang murid perempuan "pembacaan teks pancasila" karena tidak ada pengeras suara jadi murid perempuan tadi harus berteriak.
Dengan langkah tegap seperti yang telah diajarkan sebelumnya oleh bapak guru, anak laki-laki itu berjalan ketengah lapang, dan berhenti sambil mengangkat map yang sudah lusuh yang berisi selembar teks PANCASILA yang ditulis dengan tulisan tangan oleh seorang gurunya.
Lalu terdengarlah teriakan anak kecil itu:
PANCASILA
1.Ketuhanan Yang Maha Esa.
2.Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.
3.Persatuan Indonesia.
4.Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan.
5.Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Yah....itulah sekelumit masa kecilku waktu itu di sekolah dasar..stttt dan anak laki-laki itu adalah ane sendiri..hehehe,
ya..pancasila ,,dasar negara kita itu sering atau mungkin telah terlupakan oleh kita semua, jangankan memahami kandunganya terkadang teksnya pun kita sudah tidak hapal.
mari kita bertanya pada diri kita "masih hapalkah dengan Pancasila?"
pasti banyak sekali yang sudah tidak hapal..termasuk saya..uh,,semoga kita bisa memahami pancasila dan lebih menghargai jasa-jasa para pahlawan.

Selasa, 01 Juni 2010

Abu Nawas.."Pintu Akhirat"

Abu Nawas, sepertinya ceritanya tak pernah bosan untuk slalu dibaca, selain menghibur tapi juga syarat dengan ajaran tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup, seperti cerita tentang Abu Nawas berikut ini.
Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak.
Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu.
"Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?" Ulama itu berpikir sejenak kemudian ia berkata,
"Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain. Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dan takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. la merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilingi ular-ular. Maka jika masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"
Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu, termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amat luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking ihdahnya maka satu mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliau pulang kembali ke istana.
Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawas dipanggil untuk menghadap Baginda Raja. 
"Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudian bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu. Apakah engkau sanggup Abu Nawas?"
"Sanggup Paduka yang mulia." kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas yang mustahil dilaksanakan itu. "Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu sarat yang akan hamba ajukan."
"Sebutkan sarat itu." kata Baginda Raja.
"Hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya."
"Pintu apa?" tanya Baginda belum mengerti. 
"Pintu alam akhirat." jawab Abu Nawas.
"Apa itu?" tanya Baginda ingin tahu.
"Kiamat, wahai Paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat. Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota di surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu."
Mendengar penjelasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.
Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya lagi"Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?" Baginda Raja tidak menjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohon diri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya.
dari:kisah 1001 malam, Abu Nawas, Sang Penggeli hati, MB Rahimsyah

click here