sponsor blogku

Senin, 19 Juli 2010

Manusia Bertelur

Melihat judul di atas tentunya sangatlah aneh dan tidak mungkin manusia dapat bertelur, tapi itu hanya judul cerita dari kisahnya Abu Nawas yang kali ini saya baca, ini kisah selengkapnya.
Sudah   bertahun-tahun   Baginda   Raja   Harun   Al   Rasyid   ingin   mengalahkan   Abu Nawas. Namun perangkap-perangkap yang selama ini dibuat semua bisa diatasi  dengan   cara-cara   yang   cemerlang   oleh Abu   Nawas.   Baginda   Raja   tidak   putus  asa. Masih ada puluhan jaring muslihat untuk menjerat Abu Nawas. 
Baginda Raja beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian air  hangat yang hanya dikunjungi para pangeran, bangsawan dan orang-orang terkenal.   Suatu   sore   yang   cerah   ketika   Baginda   Raja   beserta   para   menterinya berendam di kolam, beliau berkata kepada para menteri, 
"Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas." 
"Apakah itu wahai Paduka yang mulia ?" tanya salah seorang menteri. 
"Kalian   tak   usah   tahu   dulu.   Aku   hanya  menghendaki   kalian   datang   lebih   dini besok   sore.   Jangan   lupa   datanglah   besok   sebelum   Abu   Nawas   datang   karena aku akan mengundangnya untuk mandi bersama-sama kita." kata Baginda Raja memberi pengarahan. Baginda Raja memang sengaja tidak menyebutkan tipuan apa yang akan digelar besok. 
Abu Nawas diundang untuk mandi bersama Baginda Raja dan para menteri di pemandian air  hangat   yang   terkenal    itu.  Seperti  yang   telah   direncanakan, Baginda Raja dan para meriteri sudah datang lebih dahulu. Baginda membawa sembilan   belas   butir   telur   ayam.   Delapan   belas   butir   dibagikan   kepada   para 
menterinya. Satu butir untuk dirinya sendiri. Kemudian Baginda memberi pengarahan   singkat   tentang   apa   yang   telah   direncanakan   untuk   menjebak   Abu Nawas. 
Ketika Abu Nawas datang, Baginda Raja beserta para menteri sudah berendam di kolam. Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawas harap-harap cemas. Kira-kira permainan apa lagi yang akan dihadapi. Mungkin permainan   kali   ini   lebih   berat   karena   Baginda   Raja   tidak   memberi   tenggang 
waktu untuk berpikir. 
Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas. Beliau berkata, "Hai Abu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkau ikut dalam permainan kami" 
"Permainan apakah itu Paduka yang mulia ?" tanya Abu Nawas belum mengerti.
"Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan oleh binatang.   Sebagai   manusia   kita   mesti   bisa   dengan   cara   kita   masing-masing." kata Baginda sambil tersenyum. 
"Hamba belum mengerti Baginda yang mulia." kata Abu Nawas agak ketakutan. 
"Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barang siapa yang tidak bisa bertelur maka ia       harus dihukum!" kata Baginda. 
Abu Nawas tidak berkata apa-apa.Wajahnya nampak murung. la semakin yakin dirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah. 
Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri. 
"Nah sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambil menunjukkan telur kita masing-masing." perintah Baginda Raja. 
Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satu persatu   dengan   menenteng   sebutir   telur   ayam.   Abu   Nawas   masih   di   dalam kolam.   ia   tentu   saja   tidak   sempat   mempersiapkan   telur   karena   ia   memang tidak   tahu   kalau   ia   diharuskan   bertelur   seperti   ayam.   Kini   Abu   Nawas   tahu kalau Baginda Raja dan para menteri telah mempersiapkan telur masing-masing 
satu butir. Karena belum ada seorang manusia pun yang bisa bertelur dan tidak akan pernah ada yang bisa. 
Karena     dadanya     mulai   terasa   sesak.   Abu   Nawas    cepat-cepat     muncul    ke permukaan      kemudian     naik   ke  atas.  Baginda    Raja  langsung    mendekati     Abu Nawas. 
Abu    Nawas    nampak     tenang,    bahkan    ia berlakau     aneh,   tiba-tiba   saja   ia mengeluarkan       suara   seperti   ayam    jantan   berkokok,    keras   sekali  sehingga Baginda dan para menterinya merasa heran. 
"Ampun Tuanku yang mulia. Hamba tidak bisa bertelur seperti Baginda dan para menteri." kata Abu Nawas sambil membungkuk hormat. 
"Kalau begitu engkau harus dihukum." kata Baginda bangga. 
"Tunggu dulu wahai Tuanku yang mulia." kata Abu Nawas memohon. 
"Apalagi hai Abu Nawas." kata Baginda tidak sabar. 
"Paduka     yang   mulia,  sebelumnya      ijinkan  hamba    membela     diri.  Sebenarnya kalau    hamba     mau   bertelur,   hamba     tentu   mampu.     Tetapi   hamba     merasa menjadi ayam jantan maka hamba tidak bertelur. Hanya ayam betina saja yang bisa   bertelur.   Kuk   kuru   yuuuuuk...!"   kata   Abu   Nawas   dengan   membusungkan dada. 
Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Baginda dan para menteri yang semula     cerah   penuh    kemenangan      kini  mendadak     berubah     menjadi    merah padam karena malu. Sebab mereka dianggap ayam betina. 
Abu Nawas memang licin, malah kini lebih licin dari pada belut. Karena merasa malu, Baginda Raja Harun Al Rasyid dan para menteri segera berpakaian dan kembali ke istana tanpa mengucapkan sapatah kata pun. 
Memang   Abu   Nawas   yang   tampaknya   blo'on   itu   sebenarnya   diakui   oleh   para  ilmuwan   sebagai   ahli   mantiq   atau   ilmu   logika.   Gampang   saja   baginya   untuk  membolak-balikkan   dan   mempermainkan  kata-kata   guna   menjatuhkan   mental  lawan-lawannya.
dari:kisah 1001 malam, Abu Nawas, Sang Penggeli hati, MB Rahimsyah

4 komentar:

  1. hehe.. abu nawas ada-ada saja, bisa-an.
    bagus kang ceritanya, akoey sampe 2x bacanya.
    makasih udh berbagi cerita.. :-)

    BalasHapus
  2. cerita abu nawas memang slalu abadi,,kocak tapi sarat makna,

    BalasHapus
  3. hahay,,Abu Nawas emang nggak ada matinya..banyak akal...cerda,cerdik,,tapi BUKAN licik..
    tingkahnya rasional tapi selalu mengandung rasa humor..pemabca jadi selalu setia mengikuti kisahnya...

    thnks udah berbagi

    BalasHapus
  4. akoey>terimakasih sudah berkunjung
    aan>betul sob..terimakasih
    faril>emang ga pernah bosen kalo baca cerita abu nawas apalagi klo direnungkan pasti banyak hikmah di dalam nya

    BalasHapus

click here